Apr 19, 2010

Fenomena Republik Artis

Pada zaman Pak Harto, tidak sedikit artis yang ikut bersaing di arena politik, sebut saja Rhoma Irama, Titiek Puspa, Camelia Malik dan masih banyak lagi.

Lepas zaman Pak Harto, bertambah banyak lagi artis, aktor, dan juga penyanyi yang mencoba menikmati manisnya kue politik. Di DPR saja, saat ini ramai artis dan selebriti yang sedang menikmati empuknya kursi dan gurihnya duit rakyat di Senayan.

Di legislatif nasional, saat ini bercokol beberapa artis seperti Adjie Massaid dan istrinya Angelina Sondakh, Rieke Dyah Pitaloka, Eko Patrio, Tere, Jamal Mirdad, Komar dan beberapa nama artis lainnya. Untuk level eksekutif daerah tercatat nama Rano Karno, Dede Yusuf dan Dicky Chandra sebagai artis yang sukses mendapat posisi penting sebagai pejabat publik.

Kemudian belakangan ini, tercatat pula beberapa artis yang akan maju dalam beberapa pemilihan kepala daerah. Sebut saja, Ratih Sanggarwati yang akan maju menjadi calon bupati di Ngawi, Jawa Timur; Ayu Azhari menjadi calon wakil bupati di Sukabumi, Jawa Barat; Emilia Contessa menjadi calon bupati

Di Banyuwangi, Jawa Timur; Bolot (H. Muhammad) sebagai calon Wali Kota Tangerang Selatan, Banten; Ikang Fauzi menjadi calon Wakil Bupati Lampung Selatan ; Julia Perez menjadi calon Wakil Bupati (cawabup) Pacitan dan masih banyak lagi.

Dicalonkannya artis–artis sebagai kepala daerah maupun wakil kepala daerah adalah konsekuensi dari demokrasi. Dalam demokrasi setiap orang memiliki hak politik yang sama, termasuk menjadi bupati.

Baik itu artis, tukang sayur, tukang becak, tukang parkir atau yang lainnya mempunyai kemungkinan untuk mencalonkan atau dicalonkan menjadi calon kepala daerah. Sebagian masyarakat setuju dengan rasionalisasi normatif, bahwa setiap orang memiliki hak untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin publik, termasuk artis.

Masuknya artis di ranah politik, baik itu menjadi anggota legislatif ataupun kepala daerah, bukanlah barang haram. Karena semua warga negara punya hak politik yang sama. Tetapi perlu diingat, dunia politik bukanlah dunia peran layaknya sinetron–sinetron yang biasa mereka lakoni, dunia politik adalah dimana terdapat tanggung jawab yang besar dan tidak main-main.

Artis boleh saja mengambil peran dalam penyelenggaraan negara, karena itu merupakan hak warga negara, namun mereka juga harus memiliki kapabilitas, kesiapan mental, kejelasan visi misi serta manajerial waktu.

Alasan para artis terjun ke dunia politik dilandasi oleh "dalih klasik", yakni ingin memperbaiki kehidupan masyarakat. Mereka yang mencalonkan diri di tanah kelahirannya, asal-usulnya, untuk mengabdikan diri pada daerah yang pernah membesarkannya.

Untuk itulah dengan modal sisa-sisa popularitasnya dan didorong oleh partai politik, mereka terjun ke dunia politik untuk maju sebagai kepala daerah atau wakilnya.

Langkah teman–teman artis untuk maju menduduki jabatan politis di tengah masyarakat juga karena ulah beberapa politikus kita yang mengambil sebagian jatah mereka. Sebut saja Ruhut Sitompul, Yusril Ihza Mahendra, Saefulah Yusuf dan beberapa politikus lainnya yang juga ikut menjadi bintang film dan sinetron, seperti layaknya selebritis. Dan tentu kita masih ingat bahwa SBY pun mencoba bakatnya menjadi penyanyi (selebritis) dengan menelorkan beberapa album.

Indonesia memang unik, SBY terpilih menjadi presiden salah satunya adalah karena popularitasnya. Ketika SBY bertanding dalam pemilihan presiden tahun 2004 yang lalu, kendaraan politiknya hanyalah partai baru yang kecil bernama Partai Demokrat.

Dalam sejarah republik ini belum pernah ada calon dari partai kecil(baru) yang mampu melaju hingga menjadi RI-1. Tetapi SBY dengan

mengandalkan popularitasnya terbukti cukup mampu. Sampai-sampai saking asyiknya menjaga citra dan popularitinya ia dituduh lupa bekerja karena hanya rajin tebar pesona.

Kita juga tentu mengetahui bahwa tidak sedikit artis maupun selebritis yang gagal melenggang di eksekutif maupun legislatif, baik di kancah nasional maupun daerah.

Dari pengalaman Dede Jusuf, Marisa Haque, dan Helmy Yahya, kemenangan artis dalam pilkada sangat tergantung pada bagaimana kondisi pemerintahan daerah di tempat itu sebelumnya. Dede Jusuf bisa memenangi Pilkada Jawa Barat mungkin karena pemerintahan daerah sebelumnya mengalami kegagalan sehingga masyarakat memerlukan figur baru.

Dengan demikian, popularitas adalah bukan sebuah faktor utama bagi pihak yang hendak maju dalam pilkada. Faktor modal finansial dan kedekatan dengan rakyat justru merupakan hal yang sangat penting.

Artis yang masih “hijau” dan lugu dalam dunia politik diiming-imingi angin surga oleh parpol. Parpol-parpol tersebut menyodorkan anggaran kepada si artis yang lumayan besar untuk kantong partai. Bagi partai-partai kecil, pencalonan artis sebagai calon kepala daerah adalah juga merupakan media kampanye untuk menunjukan bahwa mereka masih eksis. Jadi hal ini bisa dibilang sebagai ajang “curi start” menjelang pesta besar di 2014.


by Andrian Sulistyono
sumber : inilah.com


0 tanggapan:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda disini