Apr 21, 2010

Perempuan, Antara Hak & Intimidasi

Perayaan Hari Kartini untuk kesekian kalinya masih diwarnai isu intimidasi terhadap kaum perempuan. Makna emansipasi tereduksi di tengah dogma yang merugikan hak-hak perempuan sewajarnya.

Seorang feminis Kate Millett yang menulis buku klasik Sexual Politics, mencatat bahwa paham misoginis mengambil berbagai macam bentuk seperti tabu, mitos, dan pengetahuan yang didasarkan konsep patriarkis.

Seperti yang dikemukakan pengurus Yayasan Jurnal Perempuan Gadis Arivia baru-baru ini bahwa semakin banyak masyarakat yang melakukan praktek misoginis dengan menguatkan tabu dan mitos lewat pengusungan budaya tradisional, paham agama yang sempit, dan semuanya diterjemahkan dalam kepentingan politik seksual.

"Melalui praktek misoginis, perempuan di-reformasi, diciptakan ulang dengan merestriksi tubuh perempuan sesuai dengan keinginan laki-laki, pikiran dikontrol, diatur dan disuruh untuk mematuhi segala aturan masyarakat patriarkis," tutur Gadis.

Sekadar catatan, misoginis menurut Kate Millett adalah sikap yang membenci, menaklukan dan merepresi keberadaan, budaya dan spiritualitas perempuan. Opresi yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan telah berjalan berabad-abad lamanya.

Dalam pandangan misoginis perempuan adalah mahluk lemah dan harus dikontrol segala sikap dan tindak tanduknya karena ia merupakan mahluk yang lain. Inilah yang terjadi kini menurut pandangan beberapa kaum feminis modern.

"Dosa dan moral dua kata yang melekat pada definisi keberadaan mahluk perempuan. Perempuan dijadikan objek, bukan subjek yang memutuskan ruang pribadi dan publiknya, diasosiasikan dengan mahluk yang berbahaya secara moral, penggoda, tidak dapat dipercaya, tukang gosip, serta mempunyai seksualitas binal," papar Gadis.

Ia menambahkan contoh dogma menyesatkan lainnya, bahwa dosa awal manusia pun dikatakan terjadi karena ketertarikan Adam terhadap tubuh Eva yang membuat manusia menjadi berdosa. Tubuh Eva diimajinasikan sebagai tubuh yang kotor, yang merupakan penyebab dari segala malapetaka.

Makanya, bagi keturunan Eva-Eva lainnya, pengontrolan dan restriksi terhadap tubuhnya menjadi penting agar moral masyarakat terjaga dan keturunan Adam-Adam lainnya tidak akan jatuh ke jurang nista lagi.

"Cukup sudah pelarangan, intimidasi, opresi dan penghinaan pada tubuh perempuan yang diumbar oleh masyarakat yang phobia terhadap tubuh, seksualitas dan sensualitas perempuan," ungkapnya.

Bahwa seks, tubuh, dan sensualitas merupakan eskpresi kebebasan intelektual yang tidak mengandung bahaya apapun. Sebaliknya, perang, poligami, terorisme, dan pembunuhan merupakan ekspresi kekerasan yang dilandasi pengusungan budaya.

sumber : inilah.com


0 tanggapan:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda disini