Mar 29, 2010

Impian Bocah Berotak Sebelah Ingin Menjadi Balerina

Cameron Mott gadis berusia 9 tahun hanya memiliki otak sebelah kiri setelah otak kanannya diangkat karena mengalami kelainan sindrom Rasmussen sejak berusia tiga tahun.

Meski punya otak cuma sebelah gadis cilik ini tetap berkeingingan menjadi penari balet alias balerina. Punya otak sebelah tak membuat Cameron ciut untuk menjadi balerina.

Cameron diketahui mengalami kelainan sindrom Rasmussen saat berusia tiga tahun, penyakit ini telah menggerogoti sisi kanan dari otaknya. Kondisi ini memicu terjadinya epilepsy dan kejang-kejang, hingga akhirnya dokter sepakat untuk mencegah hal tersebut dengan cara mengeluarkan setengah otaknya.

"Hal itu sangat menakutkan, karena Anda tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan anak Anda setelah operasi otak ini," ujar Shelly Mott, sang bunda.

Shelly menambahkan bahwa operasi tersebut adalah pilihan yang tepat dan merupakan satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan untuk membantunya menjadi lebih baik dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Kini Cameron baru saja selesai melakukan fisioterapi dan sudah dapat berjalan serta bermain, meskipun masih terlihat pincang dan kehilangan sebagian dari penglihatan tepinya.

Dokter pun menyadari bahwa mengeluarkan sisi kanan dari otaknya yang berfungsi mengontrol sisi kiri tubuhnya, akan membuatnya menjadi lumpuh saat selesai melakukan operasi.

Meski tahu kondisi tubuhnya yang tidak sempurna, Cameron selalu berkata, "Saya ingin menjadi balerina'. Kini Cameron harus berjuang keras untuk penyembuhannya agar bisa segera menjadi balerina.

Dokter mengatakan bahwa otak anak-anak mampu melakukan pemasangan ulang (rewiring) diri mereka sendiri dan mencoba untuk mengambil alih fungsi.

Empat minggu setelah operasi, Cameron sudah bisa keluar dari rumah sakit. Saat ditanya apakah ada efek samping dari operasi ini, "Tidak ada sama sekali dan saya tetap ingin menjadi seorang balerina saat saya besar nanti," jawabnya.

Seperti dikutip dari Medicinenet, sindrom Rasmussen adalah suatu kelainan otak yang disebabkan oleh peradangan sel-sel otak di salah satu bagiannya. Hingga kini belum dapat diketahui dengan jelas apa penyebabnya.

Sindrom ini menyebabkan penderitanya seringkali mengalami kejang-kejang yang tidak dapat dikontrol oleh obat-obatan. Akibatnya lama kelamaan otak akan mengalami penyusutan (atrofi). Peradangan kemungkinan akan berhenti dengan sendirinya, tapi kerusakan yang diakibatkannya tidak bisa diperbaiki.

Kelainan otak ini menyebabkan seseorang mengalami kejang-kejang yang parah, kehilangan keterampilan motorik dan berbicara, hemiparesis (kelumpuhan salah satu sisi tubuh), radang otak, kepikunan serta kemunduran mental. Kelainan ini biasanya hanya terjadi di salah satu bagian otak dan umumnya menyerang anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Pengobatan yang biasa dilakukan untuk mengobatinya adalah melakukan operasi untuk menghilangkan bagian otak yang terkena peradangan (hemispherectomy). Obat anti-epilepsi tidak akan efektif untuk jangka panjang dalam mengendalikan kejang. Alternatif lain yang bisa dilakukan adalah diet ketogenik (tinggi lemak dan rendah karbohidrat) serta obat steroid.

Jika kelainan otak ini tidak segera diobati, maka dapat mengakibatkan defisit neurologis yang parah termasuk keterbelakangan mental dan kelumpuhan.

Pada beberapa pasien yang sudah menjalani operasi mengalami pengurangan frekuensi kejang, meskipun kebanyakan pasien mengalami gangguan dalam berbicara. Namun, hingga kini operasi masih menjadi salah satu pilihan yang tepat.

Sumber : detik


0 tanggapan:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar anda disini